The Almost Heroes, Aran Aliendra

Posted by dausgonia | January 27, 2014 | Blog, p3tirman, Uncategorized

Semacam sebuah keyakinan yang telah lama hadir di pemikiranku, tiap-tiap kepala manusia yang aku temui memiliki pelik masing-masing, cerita mereka sendiri-sendiri. Dan itu sangat menyenangkan, setidaknya bagiku.

Menerka-nerka dan membayangkan siapa dan bagaimana hidup mereka, menjadi hal yang seringnya aku pakai untuk mengisi waktu luang di sela-sela bengong khidmat yang rutin aku lakukan. Oleh karena itu aku senang bepergian, kerja di luar kantor, dari kedai kopi satu ke kedai kopi lain. Dan sekarang, aku berada di kota ini, jakarta. Di sebuah kedai kopi yang selalu membuatku nyaman.

Aku sering ke kedai kopi ini, Kedai kopi ternama yang sebetulnya kopinya tidak terlalu enak. Aku suka suasana di kedai kopi ini, terutama di bagian luar ujung sebelah kiri, di pojokan. di sana aku biasa bengong sambil melihat orang dan mobil lalu lalang. Entahlah, buatku itu sangat bagus, dan indah. Mungkin lebih tepatnya, kedai kopi ini adalah kedai kopi yang riuh dan bising, tapi menenangkan.

“Mas Aran, ashtray-nya aku ganti ya, kok akhir-akhir ini jarang ke sini mas?”

“Silakan mbak, iya nih. Makin malas ke jakarta mbak, Kalo misalnya urusan kerjaannya masih bisa dihandle dari Bandung, saya hindari ke jakarta”

“Iya sih mas, aku juga makin lama makin pengen pindah kota aja”

Seorang waitress menghampiriku, menjadi semacam alarm pagi ketika aku sedang terlelap, tapi kali ini bukan dari tidur, tapi dari sebuah lamunan, dan menyebabkan satu goresan panjang pada gambar di kertas yang sedari tadi aku kerjakan.

Namaku Aran Aliendra. Selain aku suka sama nama-nama yang aneh, aku bangga sekali dengan nama yang orangtuaku berikan. Biasanya orang-orang memanggilku Aran, kecuali beberapa teman kuliahku dulu kadang memanggil dengan sebutan kuda, atau kadang salah satu temanku, Piter. Dia memanggilku dengan sebutan alien kalo sedang becanda. Atau sedang hujan, atau sedang ada serangan zombie.

Sebagai art director di kantor Gearaffe, mengharuskanku untuk terkadang bolak-balik ke jakarta. Numpang meeting istilahnya, banyak sela-sela waktu yang tidak terpakai ketika di jakarta, itu akhirnya yang menjadi sebab aku sering terdampar di kedai kopi ini.

Langit malam jakarta sepertinya hari ini menghiburku, di tengah kebosanan menunggu Piter yang sedang entah ke mana. Langit malam ini sangat baik, dia menurunkan hujan, membuatku lebih nyaman menunggu lama di sini. Di depanku pelataran parkir, dengan barisan mobil-mobil yang seperti biasanya penuh. Basahnya atap-atap mobil itu membiaskan cahaya yang menurutku sangat bagus, suaranyapun menyatu dengan hening.

Hujan, kopi, dan beberapa alat gambar yang ada di hadapanku sekarang, yang selalu aku bawa. Kedai ini memang selalu menjadi tempat yang asik untuk menggambar, kali ini aku menggambar penguin bawah tanah.

Oh iya, aku suka menggambar, cita-citaku adalah menjadi seorang pelukis. Mungkin itulah kenapa ada Tattoo berbentuk pensil 2B di lengan sebelah kiriku. Dari kecil aku diajarkan untuk memaknai keindahan, menggambar dan bermain musik bagiku adalah cara-cara untuk tetap waras hidup di planet bumi ini. Pernah beberapa kali aku bilang, aku tidak bisa menulis. Ketika baagi kalian itu menulis, bagiku itu adalah menggambar huruf.

“Kursinya yang ini dipake ga mas?”

“oh engga, silakan”

Suara seorang perempuan tiba-tiba singgah di telingaku. Saking asiknya menggambar tangan pada penguin bawah tanah yang sedang aku kerjakan, aku bahkan tidak sempat menoleh. Tapi aku cukup yakin, dari suaranya.. perempuan tadi cantik.

Suara kursi yang diseret, dan langkah kaki perempuan itu terdengar jelas saat dia pergi menjauh, bunyi hujanpun sepertinya kalah telak. Terhadap perempuan, aku tidak secanggung sahabatku Piter, lebih tepatnya biasa saja. Tapi untuk berhubungan lebih jauh seperti berpacaran, aku malas. Perempuan itu banyaknya ribet, dan merepotkan. Itu bukan berarti aku tidak suka perempuan, aku memuja mereka. Perempuan adalah karya Tuhan yang paling indah. Tapi untuk berkomitmen, sangat merepotkan. Atau mungkin, aku belum menemukan perempuan yang tepat.

Tampaknya proses menyeret kursi perempuan tadi selesai. Karena sekarang suara hujan mulai kembali mendominasi. Tapi kenapa penguin bawah yang sedang aku gambar jadi punya sayap? aku tadi sedang menggambar tangan, bukan sayap. Mana mungkin penguin bawah tanah punya sayap. Untuk apa? Dia tidak perlu dan tidak ingin.

Aku meyakini satu hal, yang mengalihkan konsentrasiku bukan suara seretan kursi tadi, bukan suara langkah-langkah kaki yang mengirinya, bukan juga suara gemericik air hujan yang jatuh karena gravitasi. Telingaku masih menyisakan tempat singgah untuk mengingat suara yang jauh lebih indah, suara perempuan itu.

Pelan, aku menoleh ke muara terakhir seretan kursi tadi.

Tatapanku tertuju ke sana. Aku yakin, kalo ada hal yang paling mendekati dari apa yang disebut rangkuman keindahan tata surya dan semesta atau apapun yang pernah tuhan ciptakan, itu adalah apa yang sedang aku lihat sekarang. Tepat di sebelah sana, perempuan itu, bukan kursi yang dia seret.

Semua hal tentang perempuan ini berbanding lurus dengan keindahan suara yang tadi aku dengar. Badannya mungil, sangat bagus sekali dipadukan dengan paras dia yang cantik dan berwajah bulat, lengkap dengan sebuah senyuman yang tampaknya selalu serta merta ada di sana. Rambutnya yang hitam dia ikat sedemikian rupa ke belakang sampai-sampai tampak bagus. Kacamatanya yang cukup besar semakin membuat matanya yang kecil menjadi semakin mempesona.

“Mata kamu bagus” Kata-kata itu, tentunya sangat pelan sampai-sampai hanya kepalaku yang bisa mendengar, bukan telingaku. Aku bisa memastikan tidak ada sedikitpun gerak-gerik atau suara yang keluar dari mulutku. Oh mungkin itu istilahnya berbicara di dalam hati.

Sederhana sebetulnya apa yang dia kenakan, kaos putih bertuliskan “Jack’s Mannequin” dan celana jeans biru tua. Sialnya, Jack’s Mannequin adalah salah satu band yang aku suka.

Keberadaan dia di sana seolah-olah sayang untuk dilewatkan, beberapa kali aku memperhatikannya, diam-diam. Dia sedang membaca buku sambil sesekali kepalanya bergerak mengikuti irama musik dari earphone yang dia kenakan. Segelas kopi di hadapan dia, melengkapi keberadaannya. Kopi, musik, dan buku. Komposisi sempurna untuk wanita secantik ini.

Di saat-saat seperti ini, tangan tanganku selalu tampak bergerak lebih piawai dari pemikiranku sendiri. Lembar kertas bergambar penguin bawah tanah yang bersayap tadi sudah berganti lembar yang kosong.

Tangan kananku mulai bersekongkol dengan pensil dan yang sedari tadi aku pegang, sama gesitnya dengan kedua mataku yang sesekali dengan penuh cemas tertuju ke arah dia. Ketakutan dan keinginan bahwa dia tahu aku sedang memperhatikannya hampir sama besar.

“Ran, masih di sana? pulang yuk. Urusan gw udah selesai”

“Oke, Pit.. lo di mana? gw susulin deh bentar lagi”

Selang beberapa waktu setelah gambar perempuan itu selesai, Piter menelpon. Entahlah, suara Piter jadi sangat menyebalkan ketika itu. Tapi memang sudah waktunya aku pulang, hujan juga sudah mulai mereda.

“It’s like a book elegantly bound but, in a language that you can’t read. Just yet.”

Sepotong lirik dari Death Cab for cutie yang berjudul “I will Possess your heart” dari earphone yang baru saja aku pasang Mengiri kepergianku dari kedai kopi tersebut. Aku beranjak pulang.
Berkenalan secara langsung dan menyapa dia adalah sebuah kesanggupan yang tidak aku inginkan. Menurutku, Beberapa hal dalam kehidupan akan jauh lebih indah untuk tidak dimengerti sepenuhnya.

Entah apa yang perempuan itu pikirkan ketika aku dengan sengaja meninggalkan kertas bergambar dia di mejanya, juga dengan sebuah tulisan..

“Terima kasih, keberadaan kamu menyadarkanku bahwa banyak hal yang lebih indah dari pelangi, bahkan ketika hujan masih enggan mereda”

Aran Aliendra

Blog Comments

((((S C E T C H))))

(((( S C E T C H ))))

Add a comment

*Please complete all fields correctly