Salim si pemanggil Unta

Posted by dausgonia | September 10, 2014 | Blog, p3tirman, Uncategorized

Cuacanya memang sedikit syahdu, hari yang sedang sore, atau kata sebagian orang, senja. Silakan memutuskan sendiri, yang jelas kondisi matahari sudah mau luput dari pandangan mata, hampir terlihat seperti terpotong oleh horizonal bumi, atau mungkin dia memang sengaja ingin sembunyi.

“Selamat sore, Pak. Selamat datang di Gearaffe. Ada yang bisa saya bantu?” ucap seorang perempuan yang sedang duduk membudidayakan senyum sambil menyapa. Di ruangan itu hanya ada dirinya dan seorang pria yang baru saja masuk lewat pintu. Bukan jendela. Apalagi cerobong asap. Atau lubang hidup perempuan tersebut.

“Aran ada? Atau Piter? Saya ada janji dengan mereka.” Jawab lelaki tersebut sambil memperhatikan segala detil tentang perempuan itu.

Perempuan tersebut kemudian melakukan sebuah aktivitas yang dimulai dengan mengangkat gagang telepon di meja rapihnya, kemudian menekan tombol dengan jari-jari lentiknya.

“Maaf, dengan bapak siapa ya? Dan dari mana? Pak Aran bilang dia tidak punya janji hari ini dengan siapapun.” perempuan tadi kembali menatap pria itu dengan wajah yang sedikit curiga terlihat dari kerutan di pelipisnya. Namun tidak sambil batuk atau bersin.

“Saga Noudi. Dari Masa Depan” jawab pria itu sambil tersenyum jahil yang masih mengamati perempuan tadi yang sepertinya sedang kembali berbicara dengan seseorang lewat telepon, tapi kini dengan raut muka yang sedikit sebal. Ia terlihat menggerakan tangannya berdansa di atas sebuah keras dan menulis sesuatu di catatan kecilnya.

“Pak Saga, Pak Aran sedang di tengah pekerjaan. Silakan menunggu dulu di ruang tunggu, Pak. Oh iya, ada pesan juga dari Pak Aran. Ini.“ perempiuan itu menyodorkan sobekan kertas sembari menunjukkan ruang tunggu pada lelaki itu.

Rytsrof ekki eslegatdom gilyn.

‘Dammit, he remembers wordm too good.’ kutuk Saga dalah hati sambil menduduki kursi yang empuk di ruang tunggu kantor Gearaffe.

Saga membuka kotak rokoknya dan mulai menyalakan sebatang rokok dengan zippo yang sedari tadi bersembunyi di sakunya. Ia mulai memandang ke kaca jendela yang cukup luas. Ruang tunggu di kantor tersebut terletak bersebelahan dengan taman. Taman dan sekaligus tempat rekreasi serta pelepas penat untuk semua karyawan kantornya.

Rasanya sudah lebih dari setahun sejak terakhir kali Saga mengunjungi kantor ini, sudah banyak sekali perubahan sejauh bola matanya mengelilingi ruangan tersebut. Dulu karyawan di kantor ini hanya ada sekitar satu lusin, dan dengan catatan si Agus dihitung dua karena badannya cukup luas. Kenangan itu membawa Saga pada suatu kelakar ketika dia dulu berada di sini hampir setiap hari

“Iya, dunia memang sempit. Tapi enggak buat Agus, dianya aja yang terlalu lebar.” Semua orang di sana ketika itu tertawa, kecuali AC, karena dia bukan orang.

Sebenarnya Saga sedikit tidak menyangka bahwa akhirnya Gearaffe akan jadi seperti sekarang ini. Dulu Saga mulai membentuk Gearaffe hanya karena ketertarikannya terhadap Aran dan semua ide-ide bodohnya.

Lamunan Saga mulai membawanya ke beberapa tahun lalu, bahkan sebelum kantor berbentuk tidak simetris ini berdiri dengan seenaknya.

Waktu itu, siang sedang dalam keadaan terik. Mereka sedang dalam perjalanan ke sebuah pusat jual beli elektronik bekas. Saga memang ada keperluan untuk membeli sesuatu di sana, dan kebetulan waktu itu Aran baru saja tiba di Bandung di hari yang sama. Mau kembali berkarya, Saga masih ingat akan ucapan Aran.

Mobil yang dikendarai Saga belok dari pertigaan Buah Batu menuju daerah Pasar Baru.

“Ran, I have a question. Itu tattoo ada di situ sejak kapan sih?” Saga mulai membuka obrolan, mengatur kendali mobil sambil sedari tadi memperhatikan tattoo di tangan Aran. Sudah cukup lama pertanyaan ini ada di benak Saga, pertanyaan akan tattoo bergambar pensil 2B yang bisa dibilang cukup besar dan terlihat apik yang berada di lengan kiri Aran.

“Heh?” Aran kaget, “Emang lo belum tau? Perasaan gue sudah sering cerita deh tentang tattoo ini” Lanjut Aran sambil menunjukkan lengan atasnya, berharap Saga menoleh dan memperhatikan.

“Enggak, anjis! Kapan lo cerita ke gue? Gue dari dulu penasaran sih, tapi belum sempet nanya aja.” Saga menghentikan kendaraannya, dikarenakan lampu merah yang menyala di perempatan persis di hadapannya.

“Ini tattoo.. “ Sebelum Aran menyelesaikan kalimatnya, sebuah nada dering berupa lagu You’re A Tourist mengalun dari telepon genggam Aran. “Eh bentar ya, Ga. Gue angkat dulu, nomor Jakarta. Takut penting.”

Saga reflek mengecilkan suara musik di mobilnya sambil melihat lampu lalu lintas yang nampaknya masih merah serta bagian belakang mobil AVANZA di depannya.

“Iya Pak, betul. Saya sempat bekerja di salah satu perusahaan multimedia sebagai illustrator.” ujar Aran pada seseorang di seberang telepon genggamnya yang lantas membuat Saga menoleh seketika.

“EH SIANJIS! LO INTERVIEW VIA TELEPON?”

2 lampu merah serta 8 pengamen berbeda yang sudah dilewati Saga selama ia berada di balik kemudi cukup menandakan bahwa perbincangan Aran dengan siapapun yang menghubunginya berjalan cukup lama. Saga berpikir, mungkin selama Aran menelpon sudah ada sekitar lebih dari 20 pasangan yang baru jadian. Yang masih tidak habis pikir dan lebih aneh lagi buat Saga adalah fakta bahwa Aran benar-benar sedang melakukan interview kerja di telepon tersebut. Dia menceritakan bahwa dia bisa menggambar dan sedikit piawai dalam membuat gambar-gambar baik di kertas maupun digital. Aran juga menyuarakan usulnya bahwa akan sangat menyenangkan dan lebih produktif apabila mereka mengizinkan Aran untuk bisa bekerja secara remote di Bandung dan tidak harus menetap di Jakarta.

Nampaknya orang yang menjadi pelaku wawancara dadakan pada Aran ini juga menanyakan pula perihal alasan dia resign dari kantor sebelumnya. Aranpun sedikit menjelaskan bagaimana kantor itu terlalu formal dan untuk industri kreatif suasana kerjanya tidak cukup kreatif, bahkan sampai ke hal-hal internal lain. Ketika itu Saga melirik Aran, dengan tatapan yang seolah berkata ‘yaelaaaah Ran’ tersorot dari sudut matanya.

Tepat di lampu merah ke lima ketika Aran dengan sadar menutup teleponnya, setelah sebelumnya berucap terima kasih kepada dia yang dari tadi penuh keingintahuan tentang Aran. Tepat pada saat itu juga terdengar teriakan….

“FAAAAAAAK ANJIR, KITA NYASAR!!”

“Shit, Ran. It’s your fault, man! Lo sih Ran, pake interview segala, jadi aja gue ngedengerin. Kan sekarang jadi nyasar kita!” ujar Saga masih setengah berteriak yang hanya dibalas dengan tatapan tidak peduli dari Aran.

“Eh tadi sebelum gue nerima telepon, lo nanya apa sih? Gue sampe lupa.” Aran mencoba mengalihkan pembicaraan karena ia tahu betul bahwa berdebat dengan Saga tidak akan pernah berujung, dan mau bagaimanapun Aran yakin pada akhirnya dia akan kalah dan mengiyakan apa yang Saga katakan. Karena begitulah, bagi Aran, Saga adalah Si Tukang Manipulatif Keparat.

“Tattoo, Ran. Itu kapan lo di-tattoo. Eh tapi bentar. Lo pernah punya pacar kan? Nah waktu lo putus lo suka nyeritain kejelekan dia nggak sih?”

“Heh? Ya enggaklah! Kenapa emang?” Jawab Aran.

“You seriously never had a girlfriend? Really?” Saga terheran-heran.

“BUKAN ANJIR, GW NGGAK PERNAH NYERITAIN KEJELEKAN MANTAN-MANTAN GW!!” Nada kesal sedikit tampak dari suara Aran.

“Kenapa?” tanya Saga sambil tersenyum simpul.

“Ya karena gue pikir, orang yang nyeritain kejelekan mantannya itu sama aja kaya dia ngaku kalau dia sudah berbuat kesalahan. Tapi itu normal sih, kadang keceplosan juga. Yang jelas sih kalo gue ketemu cewek yang suka nyeritain kejelekan mantannya, gue kayaknya nggak akan mau pacaran sama dia. Takut nanti kalo kita putus, dia nyeritain kejelekan gue juga.” Jelas Aran panjang lebar.

“Wow, nice answer.” ujar Saga berdecak kagum mengomentari jawaban Aran. “Look, earlier you had a phone interview, right? You told them about the office you worked before. Nah, bukannya itu sama aja ya, Ran? Here’s the thing, sometimes I do these stuffs, you know? Interviewing people for many companies and I always asked them weird questions. Too weird, most times. Questions like ‘do you believe in Alien’ or ‘do you believe in Pocong’. And in every interview, I always inserted some tricky questions like ‘what was the reason behind your last resignation’. I don’t really know about others, but to me, I asked them those questions to find out if they would really tell me about their past companies or not. Because that way I’ll know what kind of person are they and are they really worth my time or not…”

“I always thought that if a person would tell me shitty stories about other people, then there’s a huge possibility that he or she would also badmouthing me behind my back. It also applies in relationship matter, you see. Also work-wise included. I really don’t want to hire people who would tell others bad stories about my company when they resigned.”

Saga menjelaskan panjang lebar. Dan Aran mencermatinya dengan baik. Saga senang karena diamnya Aran adalah tanda ia mengerti apa yang Saga bicarakan. Sampai beberapa detik kemudian.

“Lo tadi ngomong apaan deh Ga? GUE KAN NGGAK TERLALU NGERTI BAHASA INGGRIS!” kesenangan Saga yang sebentar tadi langsung menguap karena nampaknya Aran diam karena dia ga ngerti.

“Ya intinya lo tadi nyeritain kejelekan kantor lo yang sebelumnya sama aja kayak lo nyeritain kejelekan mantan pacar lo Ran. Ga asik.” Dengan sedikit lelah Saga merangkum semua cerita dia, tentu dengan bahasa indonesia.

“Iya juga ya.. Hehe.” Aran cengegesan menyadari apa yang telah dia lakukan, “Gue telepon nomer tadi aja gitu? Bilang kalo misalnya tadi gue lagi ke warung dan nggak bawa handphone, terus yang tadi ngomong di telepon itu elo bukan gue?”

“Nggak usah anjis.“ Saga tertawa, entahlah.. mau bagaimanapun Saga menganggap Aran adalah orang yang menarik dan kepolosannya kadang justru yang membuatnya lebih unik.

“Oke, balik ke pertanyaan awal, kapan lo di-tattoo, Ran, and why a pencil?” Saga kembali serius menyimak kalimat apapun yang akan keluar dari mulut Aran.

“Oh tattoo ini? Banyak yang nggak percaya sama apa yang bakal gue ceritain ke elo ini sih. Sampai akhirnya gue sering cerita kalo ini dijailin sama temen gue karena kalah taruhan, atau gue cerita karena gue suka gambar dan illustrasi makanya gue sengaja di-tattoo pensil ini. Tapi sebenernya, gue nggak tau kapan ini tattoo mulai ada di tangan gue ini. Keluarga gue bilang ini tanda lahir, dan sebenernya tattoo ini yang menjadi sebab gue jadi desainer. Entah kenapa gue percaya aja kalo tanda lahir ini punya maksud tersendiri” Kata demi kata keluar dari mulut Aran.

Hening begitu lama, sampai akhirnya Saga mulai memecah keheningan tersebut.

“Ya untung sih tattoonya pensil. Bayangin kalo gas elpiji 3KG. Terus lo sekarang kerjanya jadi agen gas Elpiji!” Saga tertawa dengan cukup lancang dan kencang setelah seenaknya ngomong seperti itu.

“Oke ran, lo jangan ketawa. Gue bakal nanyain sesuatu hal yang tampaknya aneh. Iya, lo tau gue aneh. Tapi kali ini gue serius.” dikarenakan jalanan macet, Saga sempat menengok ke arah Aran seakan keduakalinya dia menekankan kalo pertanyaan yang akan d tanyakan ini serius. Saga selalu seperti itu, dan karena dia sering becanda, orang lain sangat susah untuk membedakan kapan dia serius kapan dia becanda. Saga harus benar-benar selalu menekankan keseriusannya saat dia memang sedang mau serius. Cukup merepotkan memang buat Saga.

“Do you have superpowers?” Dengan yakin dan wajah yang lebih serius daripada ketia dia sedang membuat pas foto e-KTPnya beberapa tahun lalu. “Atau ada hal aneh yang pernah lo alamin? Atau yang bisa lo lakuin?” Saga melajutkan pertanyaannya.

“Lo nggak ngerjain atau ngisengin gw kan, Ga?” Aran malah membalas pertanyaan saga dengan pertanyaan lagi..

“Gue serius ran. Gue sempet ketemu orang yang punya tanda lahir berbentuk tattoo berbentuk pohon kurma di punggungnya, dan… entah lo percaya apa enggak. Nama dia Salim, dia anak Kediri, dia bisa mendatangkan Unta di mana saja dan kapan saja. Ini serius, bahkan ketika itu kita lagi di rest Area KM 83” Tutur Aran, tanpa ada sedikitpun nada becanda dalam setiap kata-katanya.

Aran tidak mengatakan apa-apa, begitupun Saga. Aran tampak sedikit berpikir, sedangkan saga masih tampak seperti mau menjalankan mobilnya kembali. Ketika mobil mulai melewati perempatan tersebut, Aran membuka tasnya. Mengambil sebuah sketchbook di dalamnya, dan sebuah pensil.

“Are you a left handed?” Saga mengamati Aran yang mulai menggambar dengan pensilnya, dia keheranan karena Aran menggunakan tangan kiri. Selama Saga mengenalnya, dia tau Aran tidak kidal.

“Diem dulu, Ga. Entar gw tunjukin.” Aran tidak kalah ingin keliatan serius. Saga mengamati Aran dan apa yang sedang dia kerjakan, kemudian dia bersin. Tapi Aran tidak terkejut, konsentrasi Aran sepenuhnya ke pensil dan sketchbook itu.

Mobil berbelok ke arah kanan, ke arah pusat elektronik yang memang jadi tujuan mereka sebelumnya. Tempatnya sedikit kumuh, dan banyak toko-toko komputer di sana. Saga mencari tempat parkir, dan tempat itu sepertinya sedikit penuh. Tapi menurut Saga, tempat itu selalu penuh. Pada saat Saga menemukan tempat untuk mobilnya parkir, Aran tampaknya sudah menyelesaikan apa yang sedari tadi dia lakukan.

Aran menunjukan buku sketchnya kepada Saga. Sebuah gambar bunga melati yang dilingkari tidak terlalu bagus dan sedikit menjadi lonjong juga tulisan 500. Saga menelitinya baik-baik dan keheranan sampai-sampai tidak bisa menahan sebuah pertanyaan….

“Itu gambar apaan Ran? perasaan ini gambar paling jelek yang pernah lo buat” Saga mencoba menggunakan kata-kata yang lebih halus. Tapi susah.

“Ini gambar uang koin 500 rupiah, Ga. Nah sekarang liat ini, Ga” Aran mulai menyobekan kertas berisi gambar tadi. Saga memandangnya dengan penasaran. Aran mengibas-ngibas kertas itu dengan tangannya dan kemudian sesuatu terlempar dari kertas itu yang dengan sigap ditangkap oleh tangan kanannya.

“Ambil aja nih” Aran menyerahkan koin itu ke Saga.

Saga melihatnya dengan seksama, sebuah koin penyot menyerupai uang 500 rupiah sekarang ada di tangannya, mirip dengan gambar yang ada di kertas tadi. Saga diam sejenak, dan……

“DAAAAAAAMN! ANJIIIIIIR RAAAAN!! SEMUA YANG LO GAMBAR BISA JADI BARANG BENERAN?”

Saga tidak pernah melupakan kejadian itu, Aran adalah orang aneh kedua yang punya kehebatan tersendiri setelah Salim…

“Woy!! Udah tau nama penerima tamu tadi siapa?” Lamunan Saga kembali ke masa sekarang, masa di mana dia sedang duduk-duduk di kantor gearaffe. dan di depannya sudah ada lelaki gimbal yang di tangan kirinya terdapat tattoo pensil tadi. Dia, Aran Aliendra.

Add a comment

*Please complete all fields correctly