Pola

Posted by dausgonia | February 26, 2014 | Blog, p3tirman, Uncategorized

Selepas senja dan beberapa lampu kota sudah mulai menyatakan keberadaannya. Ini cangkir kopi ke tiga, cangkir Aran, sebetulnya. Eh, cangkir kedai kopi ini, dan kopinya adalah kopi yang tadi dipesan Aran. Entah kemana dirinya sekarang. Diculik matahari, mungkin.

“Gue duluan ya, Ga. Kayaknya harus ke kantor dulu nih sebelum balik. Aran nggak bawa kendaraan dan mau nebeng pulang.” Piter kembali lagi ke mejaku, setelah sebelumnya ia berbincang dengan seseorang di lantai bawah.

“Lah, where is Aran actually? He left already?” aku bertanya pada Piter sambil kemudian menyadari bahwa gitar Aran sudah tidak di tempat sebelumnya. Aran dan gitarnya memang bagaikan pasangan kekasih yang saling mencintai. Tidak terpisahkan sedetikpun.

“Dia kan tadi pamitan bareng Laut. Lo sih sibuk sama laptop mulu.” ujar Piter sambil berkemas, merapikan barang-barangnya.

“GOD, YAELAH TUH BOCAH! So who’s paying these coffees? He promises he’ll treat me today. Oh anyway, you guys won’t meet Om Arya today? He’ll be here soon.” aku benar-benar tidak ingat kapan Aran pergi. Kulihat penunjuk waktu di laptopku yang menunjukkan angka 18.30. Tumben sekali ini perkumpulan uncal sudah pada bubar.

“Oh si Om Arya mau ke sini? Kebetulan kalo gitu. Gue berarti beneran harus pulang. Dia lagi aneh belakangan ini, curhat mulu. Galau mulu, entah galauin apa.” Dan dengan kalimat itu Piter kemudian bergegas turun ke lantai bawah dan pulang dengan sangat tergesa-gesa.

Tinggalah aku sendirian di sudut lantai dua kedai kopi itu, berusaha mengingat apa yang kulakukan tadi sampai tidak menyadari kepergian Aran. Oh, dan ya, beberapa e-mail dari client hari ini memang sedikit menyebalkan.

Ini salah satunya.

 

Dear Saga,

Kita mau buat acara di Jakarta dengan audience sekitar 400 orang. Acaranya berbentuk konser musik selama 3 hari. Kita butuh bikin semacam games atau apapun yang bisa menarik banyak pengunjung dan keramaian di salah satu booth.

Acaranya lusa. Dan kemungkinan di sana tidak ada koneksi internet.

 

Okay. Step aside the lack of internet connection. I do believe I can create something that doesn’t need any internet connection. Tapi acaranya lusa? Pfft. Beberapa client mungkin betul-betul berpikir bahwa aku adalah Gandalf The White. Dan sekalipun memang benar aku adalah tukang sihir dan bisa membuat hal seperti itu……

 

Hi, good evening.

And it is one good evening indeed over here, an evening to be good on, and I hope you feel good this evening too, wherever you are.

Regarding your request, I think I might have a good idea for your event. Karena acaranya lusa, bagaimana kalau kita assign 5 orang copet di salah satu booth? Yes, five burglars. Saya yakin itu akan membuat booth Anda ramai. Saya punya beberapa kenalan copet dan bisa saya pastikan acara Anda akan menjadi lebih ramai.

If you are interested, I will send you the proposal along with the quotation. It won’t cost you a lot, worry not.

Dengan segala kesungguhan dan kerendahan hati. Terima kasih, dan bersenang-senanglah.

 

Kubaca kembali draft e-mail itu untuk memastikan tidak ada typo dan kesalahan penulisan di e-mail balasan yang kutulis, karena memang seringnya begitu. Tapi mudah-mudahan tidak kali ini. Dan kalaupun ada, aku tidak begitu peduli sebetulnya. Beberapa client memang perlu tahu bahwa aku tidak menerima semua pekerjaan. Apalagi yang mendadak. Am I Bandung Bondowoso or what? Aku termasuk orang yang menganut konsep totalitas, dan mungkin sedikit perfeksionis. Aku malas dengan apapun yang kurang matang, apalagi dengan jangka waktu singkat yang nantinya malah akan mengurangi kadar keren atau mungkin jadi tidak keren sama sekali.

Lalu dia, lelaki separuh baya atau separuh buaya yang aku kenal, singgah di hadapanku. Earphone yang sedari tadi menempel sengaja di kedua telingaku kulepas, dan tidak ada lagi alunan lagu ‘Out Of My Head’ dari Fast Ball yang baru setengahnya terdengar.

“OM ARYA! HOW ARE YOU?” aku berdiri menghampirinya. Sun tangan, lebih tepatnya. Ini juga salah satu kebiasaanku jika bertemu seseorang yang lebih tua. Atau yang mukanya tua.

“Anjir, lo masih aja ya bentukannya kayak gini. Keriting, dekil, dan lengkap dengan wajah nyebelin. Kirain bakal jadi gantengan dikit setelah nyaris setahun kita nggak ketemu.” ujar Arya sambil menduduki kursi yang ada di depanku.

“What? Hahaha, it’s gonna be hard when I become handsome, Om. Even with this face I managed to get a lot of fans. I don’t dare to imagine how would it be when I have a handsome face.” jawabku seraya kembali duduk di kursiku.

Arya Fauzy. Seorang om-om yang sudah 5 tahun kukenal sejak aku bekerja di perusahaan Multimedia miliknya selama hampir setahun. Walau pada akhirnya aku dipecat entah karena apa, dia dan perusahaannya adalah satu-satunya yang membuatku mengalami bagaimana rasanya dipecat, setidaknya sampai sekarang dalam sejarah karirku.

Sudah satu tahun semenjak aku bertemu terakhir kali dengannya. Semacam semesta sepertinya tidak pernah menyediakan waktu yang tepat untuk kami berdua bertemu, hingga detik ini. Ia kini dikenal sebagai salah satu investor di beberapa perusahaan Startup di Indonesia, Gearaffe salah satunya, tempat Aran dan Piter bekerja.

“How’s life, Om? Seems like you’re getting more and more successful each day. And fatter, too! I clearly remember the last time we met, Metallica Concert! And back then you’re having ‘encok’. Hahaha. Kurang-kurangin, makannya, Om.” Aku memulai perbincangan dengan tawa enak setelah mengingat kejadian setahun yang lalu, mendapati dirinya duduk sendirian di parkiran sebuah minimarket selepas konser, dengan sebungkus obat encok yang sepertinya baru ia beli sebelumnya di sana.

“FAAAKLAH! Lo masih inget aja lagi. Ya gini aja gue, Ga. Beberapa orang datang dengan ide hebat, dan gue mencoba memfasilitasi mereka.” jawab Arya sambil tersenyum. Ia jelas terlihat lebih gemuk, dan beberapa helai yang ternyata banyak di rambutnya mulai memutih.

“Lo sendiri apa kabar? Jarang banget ada di Bandung. Kayaknya seru ya hidup lo, Ga, jalan-jalan melulu. Tahun depan gue mau ngikutin lo aja. Pensiun lebih awal lalu keliling dunia.” lanjutnya dengan sebuah pertanyaan yang aduh, aku bosan sebetulnya.

“Yeah, life’s good, man. That’s what you taught me, right? Gue sering ke Bandung kok, Om. Lira sekarang kan di Bandung. Bandung will always be a home to me, Om. Tenang.”

Semenjak Lira bekerja di kantor Gearaffe, aku memang sering pulang. Tapi ya masih seperti ini, bepergian ke beberapa negara dan beberapa kota tetap terpaksa aku lakukan untuk menjaga kewarasanku, dan memang seharusnya seperti itu. Agar Bandung tetap menjadi tempat pulang.

“Wait, do you want some coffee, Om?”

“Eh iya, mana menunya?” Jawab Arya. Matanya yang terhalang sebuah kacamata tanpa frame sibuk mencari menu dengan lincahnya.

“And how’s Laras?” tanyaku. Kali ini dengan sebuah keyakinan bahwa pertanyaanku akan membuatnya terkejut.

“HEH?! KOK LO TAHU? SIAPA YANG CERITA? ARAN?” and again, I was right.

“MEEEEN! ATUHLAH OM!”

“Serius, Ga. Tahu dari siapa lo? Perasaan gue cuma cerita ke Aran deh.” ujar Arya yang masih terkejut dan tampak butuh jawaban atas pertanyaannya ini.

“You seriously ask me how did I know? Come on. Those cheesy lyrics, heart-shaped poems, weirdly romantic tweets? Even your song on soundcloud. Nice song, by the way.”

“Fak, gue lupa. Lo Saga, Saga Noudi, Data Mining berwujud manusia.” Raut wajah Arya mulai terlihat berubah. Ia tertegun sejenak. “Iya, Ga. Laras. I think I’m in love with her.”

“Okay, Om. Let’s do something fun. Lo pasti kangen gue ngelakuin ini.” Aku berdiri dan mengambil handphoneku yang ku-charge di meja sebelah karena colokan di mejaku sudah terpakai untuk kebutuhan laptopku. Sudah penuh sih, sebenarnya, dan handphoneku pun belum perlu di charge, sebetulnya.

“You see that girl, sitting alone at the table next to the stairs?” tanyaku dengan berbisik pada Arya.

“Yap, kenapa?” tanya Arya penasaran.

“Her name is Lani, and I want to get to know her.” jawabku, masih dengan berbisik.

“Yaelah, Saga. Kalo lo udah tau namanya, ngapain kenalan? Tetep random ya, lo. Itu temen lo?” timpal Arya, dengan volume yang sedikit keras.

“Woy, ssst. No, I don’t know her. I know her name from social media searching method that Aran taught me.” jelasku sambil tersenyum.

“Apaan, itu ‘cek ombak’ kan? Si Aran bilang dia yang diajarin sama lo.”

“Oh iya ya? Ah whatever, I forgot.” he was actually right, sebenarnya memang aku yang mengajarkan Aran tentang istilah ‘cek ombak’ ini.

“Okay, now you see that table, Om? The one where the kumisan guy sitting with his four other friends beberapa menit sebelum Om tiba di sini.” Arya masih menyimak saat aku menunjuk 5 orang remaja yang duduk di meja yang masih kosong tanpa pesanan. “Now, pay attention to whatever I’m about to do. Oh iya, lo mau pesen apa, Om? Gue panggil pelayannya dulu ya.”

Aku beranjak dari kursiku menuju ke lantai satu, di mana kasir dan para pelayang biasanya berada. Lantai bawah kedai kopi itu lumayan ramai, dan semua pelayan terlihat sibuk. Kecuali satu. Ivan.

Dan pelayan yang bernama Ivan ini sedang bersantai ria sembari menghisap rokoknya, dengan tangan satu lagi yang tetap sibuk menggerayangi handphonenya sambil terkadang tertawa sendiri menatap benda itu.

“Van, mau pesen dong!” aku mengarahkan jari telunjukku ke atas, meminta Ivan untuk naik ke lantai dua. Ya, saking seringnya aku dan teman-temanku berkunjung ke kedai kopi ini, aku hampir mengenal semua karyawan di sini.

Beberapa menit setelah aku kembali lagi ke mejaku, Ivan menghampiri.

“Gue mau Kopi Sanger satu deh, sama Tahu Kepret satu juga.” Arya menyebutkan pesanannya.

“Van, another Kopi Sanger for me, and you can take these empty glasses away, please. Thank you, Van!” kupesan lagi satu cangkir kopi karena aku tahu bahwa mengobrol dengan Om Arya tidak pernah bisa sebentar. Beberapa obrolan dengannya dipastikan selalu menyenangkan.

Ivan lalu berjalan dan kini menuju meja di mana para remaja tadi telah memilih apa yang ingin mereka pesan.

“Oh iya, wait a second, Om. I have to make a phonecall.” ujarku meminta izin sebentar pada Arya untuk berbicara dengan temanku. Teman, yang sekaligus pemilik kedai kopi ini.

Setelah menelpon, aku kembali berbincang dengan Om Arya, penasaran ingin mendengar seluruh cerita yang membuat benaknya kalut beberapa hari ini. “Eh iya, tell me more, Om. Laras, Laras. What’s with her?”

“Yaa, awalnya nggak ada niat apapun sih. Lo tau sendiri gue gimana. Gue kan flirting ke semua orang, becanda. Dan serius, nggak ada niatan apapun.” Arya mulai bercerita.

“Hahahahaha! And what makes this woman different? What actually makes her so special she made the mighty Arya Fauzy this galau?” tanyaku dengan rasa penasaran yang kini bertambah 200% kadarnya.

Arya orang yang sangat cerdas, dan kecerdasannya itu yang biasanya menarik banyak wanita seperti magnet. Cara bicara serta apa yang ia bicarakan dapat membuat hanyut sekian wanita hanya dalam beberapa obrolan.

“Entahlah, Ga. Dari sekian wanita dan setelah beberapa tahun ini, dia wanita yang frekuensinya beda dari wanita lain. It’s like we vibrate on the same frequencies. Semacam, KEMANA AJA LO SELAMA INI? KENAPA BARU MUNCUL SEKARANG?”

 

Arya mulai cerita banyak, tentang apa yang ia alami, tentang bagaimana dirinya dan Laras bertemu. Tentang betapa cerdasnya wanita itu. Juga tentang bagaimana cara kerja mesin uap. Serta apa hubungnnya dengan kisah percintaannya. Yang jelas, Arya cerita bahwa iapun tahu ia nggak akan mungkin bisa bersama wanita itu.

“Pernah nggak sih, Ga. Secara tiba-tiba, dunia lo hanya berputar mengelilingi seseorang. Semua lagu, semua film, semua hal pasti ngingetin lo tentang seseorang itu. Lo bayangin barusan dari Jakarta gue nyetir sendirian, gerimis, dan sepanjang perjalanan gue ngedengerin lagu-lagu yang gue dan Laras pernah share bareng-bareng.”

Dari raut wajahnya, aku tahu Arya serius. Mengetahui sesuatu yang secara kemungkinan peluangnya sangat besar terjadi sementara itu tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan memang menyebalkan. Sangat menyebalkan.

“If I were you, I’d probably cry my self out loud the whole journey, Om.” ujarku perlahan. Dan memang sangat mungkin akan seperi itu, aku cukup cengeng. Menurutku, menangis terkadang diperlukan. Asal sedang sendiri. Gengsi tetap harus dijaga kalau di depan orang lain.

“Terus, gue harus gimana, Ga? Gue tahu sih ini salah, tapi kayaknya.. gue bener-bener jatuh cinta sama dia, Ga.” dengan wajah serius dan putus asa, pertanyaan ini akhirnya muncul.

Belum sempat aku menjawab pertanyaan Arya, setengah tubuh Ivan mulai tampak, yang perlahan bertambah menjadi wujud Ivan seutuhnya saat ia selesai menaiki tangga. Lengkap dengan nampan berisi beberapa cangkir kopi di tangannya.

“Eh, sebentar Om.” aku sedikit memotong pertanyaannya, “Let’s pause the curhat session for a while. See something interesting instead.” ujarku dengan ujung bibir yang sedikit terangkat menghasilkan sebuah senyum yang pastinya membuat Om Arya kini penasaran.

“Can I borrow your phone, Om?”

Meja yang aku dan Om Arya tempati berada di pojok lantai dua, sementara wanita bernama Lani yang kuperhatikan sejak tadi duduk hanya terhalang satu meja dimana aku menaruh handphoneku di sana untuk di charge beberapa saat lalu. Tidak jauh di depan meja Lani, di sanalah 5 remaja tanggung tadi duduk menunggu pesanannya.

Aku mulai mencari nama “Saga Noudi” di phonebook handphone milik Om Arya, dan menelpon nomorku sendiri sambil tetap meletakkan handphone Om Arya di meja. Dari kejauhan, suara ringtone handphoneku berdering, dan Lani terlihat kaget sebelum ia mulai sibuk merogoh tasnya untuk mencari handphone miliknya yang ia kira merupakan sumber suara ringtone yang berdering ini. Aku kemudian beranjak berdiri untuk mengambil handphoneku yang tercolok pada charger tepat di samping Lani. Bersamaan dengan itu, Ivan dan nampan penuhnya sudah dekat diantara meja Lani dan meja 5 remaja itu. Dan saat itu tiba-tiba terdengar dering bunyi handphone lain, handphone milik Ivan. Ivan yang sedang membawa senampah penuh cangkir kopi itu mulai berusaha untuk mengambil handphone di saku celana kanannya, dan jarak antar meja yang sempit membuatnya lantas menambrak sebuah kursi hingga membuat ia hampir jatuh dan menumpakan semua pesanan itu tepat di meja Lani.

Sementara aku, yang kini sudah menggenggam handphoneku, sudah memprediksi bahwa ini akan terjadi. Dengan sigap, kutahan Ivan agar tidak terjatuh. Melindungi meja, cangkir-cangir kopi panas, dan wanita itu.

“You okay, Van? Hati-hati dong. Kalau jatuh kan repot. Nanti kena si Teteh ini.” ujarku pada Ivan dengan sedikit nada tegas, kemudian berpaling melemparkan senyum pada wanita yang bernama Lani itu.

“Aduh, untung ada A’ Saga. Kalo nggak pasti udah jatuh aku tadi.” Ivan kemudian menuju meja 5 remaja di depan meja Lani dan perlahan menaruh pesanan mereka di atas meja.

“Kamu nggak apa-apa, kan? Eh, makasih ya. Kalau misalnya tadi nggak ditologin, aku pasti udah kesiram kopi panas dari nampan tadi.” Lani tersenyum dan mulai berbicara.

“Saga, Saga Noudi.” ujarku sambil mengulurkan tanganku.

“Lani.” jawabnya, masih tersenyum.

“It must be your first time here, aku nggak pernah lihat kamu sebelumnya.” lanjutku.

“Iya, nungguin temen.”

“Oh gitu. Okay then, Lani, I’d better get back to my table. Kalau sempat, nanti ngobrol lagi ya.” tambahku sebelum aku kembali ke mejaku, “Oh iya, if you like coffee, try the one with Nutella. It’s one of the best.”

Dan ia menjawabku dengan anggukan ringan sambil masih tersenyum manis. Semanis Kopi Nutella yang mungkin nanti akan ia pesan.

Kembalinya ke mejaku, Arya sudah menyambutku dengan tatapan yang datar. “Saga Noudi. Kalo orang lain yang ngelakuin apa yang barusan lo lakuin tadi, gue bakal takjub sih. Tapi berhubung ini elo, gue biasa aja ah.”

“Hahahaha, I swear gue jarang kenalan sama cewek kayak tadi, Om.” jawabku jujur. Dan lagipula memang bukan itu tujuanku melakukan apapun yang kulakukan tadi.

“Iya, bukan kenalannya. Riset dan baca polanya. Gue yakin lo barusan udah tahu dari Twitter tuh cewek kalo dia baru pertama kali kesini dan lagi janjian sama orang lain.” tuduh Arya seenaknya sambil menyimpulkan sendiri.

“Geez. Nggak gitu. Kalau soal baru kesini, yes I knew it from her Twitter. But the fact that she’s alone in a four seater table told me that she’s saving the seats for another people.”

“Hmm, terus darimana lo tahu kalo Ivan bakal jatuh? Dan bakal ada yang nelpon dia?” Arya mulai menodong rentetan pertanyaan padaku atas nama rasa ingin tahu.

“When I went downstair earlier, I kinda moved the chairs a little bit. And remember when I said I had to make a phonecall? I called the owned of this coffee shop, so that must be him who called Ivan on the phone, exactly in 10 minutes just like what I told him to.” ujarku.

“Terus, lo ngapain tadi pinjem handphone gue buat nelpon nomor lo sendiri?”

“I saw an iPhone inside Lani’s bag right next to her. Cuma pengen bikin dia sibuk nyari handphonenya dan nggak merhatiin Ivan bawa nampan aja sih.”

“Lah, darimana lo tahu kalo dia bakal nyari handphone nya?” dahi Arya berkerut, menambah keriput yang memang sudah mulai bermunculan di wajahnya.

“My dear Om Arya, as we all know, iPhone has this default ringtone and I just knew it from her appearance that she’s not a type of person yang suka gonta-ganti ringtone handphone.”

“Gimana kalo nggak kedengeran? Pas lagi berisik gitu? Banyak mobil lewat juga kan di jalanan depan.”

“Traffic light di perempatan sebelum menuju coffee shop ini berhenti selama 2 menit di setiap 5 menit. And while observing the faces of those five young men right there, I saw hunger. Everyone won’t become too chit-chatty when they’re hungry.”

“Gimana kalo ada tamu lain baru dateng?”

“There’s an empty table downstair so if there’s another guest ya kemungkinan bakal nempatin meja di bawah sih.” Semakin Arya bertanya, sebetulnya semakin malas aku menjelaskannya.

“Ah, prediksi lo bisa aja salah, Ga. Masih banyak kemungkinan lain yang bisa terjadi.” Arya tetap membantah. Ya, memang seperti itulah dirinya, dalam beberapa hal, aku dan Arya memang tak pernah bisa sepakat.

“Gini deh, Om. Even if my prediction was wrong and I failed, I won’t get hurt anyway, right?” ujarku cengengesan.

Saat itu Ivan kembali datang untuk meletakkan dua cangkir Kopi Sanger pesananku dan Om Arya.

“A’ Saga, kok barusan si Bos nelpon nanyain Om Arya ada atau enggak sih? Katanya, si Bos disuruh ngecek sama A’ Saga. Lah, A’ Saga kan daritadi sore di sini…” tanya Ivan dengan wajah yang bingung dan tangan kanan yang menggaruk belakang kepalanya.

“Eh, is it? Maybe your boss is joking. Becanda kali si-Bos.” jawabku sambil mencoba memasang wajah serius. Walaupun susah.

“Ah, nggak tauk ah.” Ivan mengangkat bahunya, masih nampak bingung sebelum ia akhirnya memutuskan untuk melangkah menuju kembali ke lantai bawah.

 

Arya masih membahas kemungkinan-kemungkinan lain dari kejadian tadi, dan akhirnya setuju kalau semua yang aku lakukan dipengaruhi faktor keberuntungan dan kebetulan.

“Anyway, Om. Fortune, itself, has its own pattern.” aku mash tidak mau kalah.

“Gimana lo aja deh, Sagaaa. Capek emang nih diskusi sama rambut keriting lo.” dan sepertinya Arya mulai nampak lelah meladeni diskusi yang sedikit becanda tadi.

“Back to Laras, Om.” ujarku, diam sejenak. Betupula dengan Arya. Wajahnya kembali kalut mendengar satu nama itu terucap. Lipatan di wajahnya mulai kembali terlihat. Membuktikan bahwa usia tidak akan pernah bisa berbohong, meski jiwanya begitu muda.

“I’ve been in your position. Same story, different day. And that experience makes whatever suggestion I make is invalid.” tambahku dengan nada serius. “Ya udahlah, nikmatin aja. If you two are comfortable with this situation, then float along the river. If you’re not, then you won’t. Like you said to me years ago, Om: if it feels right then it is right.”

“Ga, gue emang takut banget gue jatuh cinta sama Laras, tapi yang lebih gue takutin lagi adalah, gimana kalo dia juga jatuh cinta sama gue? Lo tau sendiri kan kondisinya kayak gimana. Kita nggak mungkin. We shouldn’t be.” bisik Arya perlahan. Dari nada suaranya, aku yakin ia memang sudah jatuh cinta dengan wanita ini, Laras.

“Pohon tidak akan pernah memilih siapa yang berteduh dibawahnya. It is true that you can’t stop someone from loving you. Tapi kalau tentang lo jatuh cinta sama dia, itu perkara lain. You have all the control over yourself.” ujarku, “Love is something we can’t predict, yes. But love is never a mistake. Bad timing? Bullshit. Kapanpun boleh kok jatuh cinta. Falling for the wrong person? Kita nggak akan tahu itu salah atau enggak kalau kitanya sendiri belum ngejalanin.”

Aku diam sejenak, mencerna ulang kata-kata yang baru saja keluar dari mulutku sendiri. Love is something I cannot predict indeed, love has no pattern. Dan aku benci hal yang tidak berpola seperti ini.

“Om, you know Jody, right? Gearaffe’s Office Boy.” tanyaku pada Arya setelah keheningan yang tadi timbul atas kalimatku sebelumnya.

“Jody? Tahu lah, kenapa dia?” jawab dan tanya Arya kembali.

“Jody once had a girlfriend and the relationship went more than two years. But then, one day Jody met another girl and he was as galau as you are. He actually wanted to break up with his girlfriend but he was so unsure. Dia sebenernya pengen putus dan diapun udah nggak tahan lagi dengan pacarnya yang rewel. Tapi Jody nggak rela karena dia udah jalanin hubungan itu selama dua tahun.” aku mulai kembali bercerita.

“Terus?” Arya mulai menegakkan punggungnya, mendengarkan ceritaku dengan seksama.

“In this case, Jody is 23 years old. Masih muda. Buat gue, hanging on that kind of relationship just for the sake of udah lama pacaran itu nggak masuk akal. It doesn’t make sense. How can he sacrifice the rest of his life just for two years of that relationship? It is so mathematically wrong.”

“YAELAH NYET! Lo lagi, ngobrolin hal kayak gini pake angka dan perhitungan.” tepis Arya yang tampaknya sedikit kecewa dengan ceritaku barusan. Meski untukku, ya itulah yang paling masuk akal.

“Gini deh. You’re 40, you’re not as young as Jody. We have to face the fact that you’re old. And the average age death if 70. So, kemungkinan besar waktu hidup lo ya tinggal 30 tahun lagi kan. Dan kalau lo memilih buat bersama Laras. Ya berarti lo harus rela ninggalin semua kehidupan lo sekarang. Now, are you really sure about that? You really want to throw all your 40 years of living with only 30 years of uncertainty?” aku bertanya serius.

“FAKLAH, SAGAAAA! LO JANGAN PAKE ANGKA DONG KALO NGOMONGIN YANG KAYAK GINI!” dan Arya mulai tampak benar-benar lelah mendengarkan ocehanku ini.

“It’s the logic that talks, Om. Ya, terserah elo sih. But if you asked me, nikmatin ajalah. Enjoy the flow. As long as you keep it safe.” aku sedikit becanda kali ini, dan ia tertawa renyah menyambutnya.

“Don’t forget that everything has its own consequences. I’m sure you’re a lot wiser than me, anyway. All I know is that tonight, Arya Fauzy, loses, big time! Percuma flirting-nya jago kalau defense-nya rendah. Hahaha” tambahku padanya.

“Becanda mulu lo, Ga. Tauk ah. Gue malah makin bingung setelah curhat dan dengerin omongan lo. Salah nih gue.” dan akhirnya Arya mulai meminum kopi yang sedari tadi ia sia-siakan.

 

 

Ketika langit malam hampir sampai pada titik tengahnya, aku dan Arya beranjak dari kedai kopi itu. Lani sudah entah kemana.

Semesta memang penuh kejutan, dan ya seperti itulah adanya. Jatuh cinta tidak pernah bisa direncanakan. Tidak bisa di prediksi. Perkara ini, meski polanya mungkin diketahui, tapi tetap tidak bisa dikendalikan

Masih teringat jelas beberapa kalimat dari cerita Arya tadi. Salah satunya adalah tentang bagaimana mereka bertemu.

“Gue kenal dia ketika itu hari Jumat, Ga. Dan buat gue, nggak ada hari lain setelah hari itu. Sampai sekarang gue masih merasa ini hari Jumat. Bumi nggak berputar lagi setelah kejadian itu.”

 

Jatuh cinta, perkara pola yang tak tertebak, tapi selalu menyenangkan.

Blog Comments

Hmm.. Bahasa inggrisnya bagus yah..

audaces fortuna iuvat

[…] cerita tambahan pada cerita sebelumnya, Pola ………….. ’5 menit lagi aku sampe. Tunggu sebentar ya, […]

sebenernya pengen comment di bilangan langit tapi kok malah disini ya?
whatever us, gue suka!
terus berkarya, imajinasi tanpa batas.

Keren us! Suka bgt sama ceritanya, terus berimajinasi !

Add a comment

*Please complete all fields correctly