[Cemara Bercerita] Singgah

Posted by dausgonia | February 29, 2016 | Blog, Kata, p3tirman, Uncategorized

“Mas, kopinya satu lagi deh mas” Ucap saya sambil kembali melihat layar handphone, dan ini sudah cangkir kopi ke dua saya di warung ini. Warung yang saya pikir tiba-tiba ada, warung yang letaknya tidak jauh dari apartemen tempat saya satu bulan terakhir sering singgah di Jakarta.

Iya, singgah. Entah kenapa kata tersebut terasa puitis dan mempunyai arti yang lebih untuk saya. Nama saya Timur, seperti di kehidupan ini, di ibu kota yang katanya kejam ini, dan di warung ini pun saya sedang singgah. Singgah menunggu seseorang yang sepertinya ketiduran, dan sayangnya satu-satunya cara saya bisa beristirahat adalah dengan adanya tanda dari dia menghubungi melalui layar handphone yang sedari tadi saya pandangi.

“Asli sini mas?” Sambil menyuguhkan kopi, penjaga warung tersebut dengan ramah membuka obrolan.

“Engga mas, saya dari Bandung. Kebetulan lagi ada kerjaan di jakarta, jadi sering ke apartemen sebelah untuk numpang istirahat, kalo mas asli sini?” seperti ajang pembalasan dendam, saya menanyakan pertanyaan yang sama.

Obrolan-obrolan lain terus berlanjut, karena lebih dari tengah malam kondisi warung lumayan sepi beberapa wajah-wajah lelah berkunjung kemudian pergi. Penjaga warung tersebut namanya Adit, ternyata dia asli dari tasik. Kita hampir sama-sama menyesal kenapa dari awal manggilnya mas dan memakai bahasa indonesia padahal sama-sama sunda. Karena dia lebih tua, jadi saya manggil dia kang Adit.

Kang Adit sudah hampir 8 tahun tinggal di jakarta, anak dan istrinya baru pindah ke jakarta 3 tahunan setelahnya, setelah kang Adit bisa membeli rumah kecil di daerah pinggiran. Warung kecil inipun milik dia pribadi, walau ketika awal-awal dia di ibu kota hanya bekerja sebagai tukang ojeg. Dia cerita kalo misalnya dia sangat menikmati pekerjaannya sebagai penjaga warung, karena dia bisa bertemu banyak orang, mengobrol dengan banyak orang baru dan berbeda-beda. “Tiap hari saya mendapat ilmu dan temen baru, emang pada dasarnya saya mah bawel” ucap dia sambil terkekeh.

“Gimana kang, lebih enak tinggal di jakarta atau di Tasik?” Saya selalu penasaran dengan orang yang bisa bertahan hidup di jakarta.

“Yah, sama aja di tasik dan Jakarta juga kalo saya mah, yang penting bareng sama anak dan istri. Sama aja.” Jawab kang Adit sambil meracik sebuah mie rebus pesanan pelanggan.

“Dulu saya pas di tasik pengen banget beli mobil, tapi ya pas di tasik saya kerja serabutan dan ga jelas, mana mungkin bisa kebeli. Nah sebenernya itu salah satu alasan saya ke jakarta, pengen nabung, pengen beli mobil. Sekarang alhamdulillah udah bisa nyicil mobil, tapi harus tinggal di jakarta. Tapi tau sendiri Jakarta macet di mana-mana, udah punya mobil juga tetep aja ke mana-mana pake motor. Jarang dipake mobilnya. Sama aja kan kaya di Tasik?” Kang Adit tertawa.

Setelah beberapa gorengan kemudian, handphone saya bunyi.. Karena lelah, saya bergegas untuk pamitan dengan tidak lupa membayar dua gelas kopi dan beberapa gorengan. Tidak pernah ada singgah yang sia-sia, termasuk di warung ini dan bisa mendengar cerita-cerita Kang Adit yang bijak.

Setelah keluar dari warung, baru saya cek handphone. EH DAN TERNYATA NOTIF LINE GETRICH :(((

– Timur, Jakarta dan tidak sedang musim hujan.

 

Pertama dipublikasikan di Cemara Bercerita dengan Tema Warung.

Add a comment

*Please complete all fields correctly