Bilangan Langit

Posted by dausgonia | February 17, 2014 | Blog, p3tirman, Uncategorized

“Lira, right?”

“Sa..Saga?”

“As far as I remember, yes, that’s what they call me. Saga.”

“Saga, are you crazy? Aku disangka aneh tadi sama orang-orang yang lewat. Hih!”

Seorang perempuan sudah duduk di sana, dengan 2 cangkir kopi yang terisi penuh dan terlihat belum dinikmati sama sekali. Suara-suara lalu lalang serta lagu yang mengalun di kedai kopi ini kalah bising dibanding suara cerewet perempuan itu. Suara yang manis, begitupun orangnya, terlebih lagi senyumnya. Just exactly like what I thought before, going back home always feels this good. Especially now.

“Saga Noudi, nice to meet you. Akhirnya, ya?” Aku menyodorkan tanganku namun ia hanya melihatnya tajam dengan dahi berkerut.

“Lira. Lira Tubing, ah apaan sih kamu, Ga? Kayak belum kenal sebelumnya aja.”

“But I just met you, am I not? Biasanya kalau orang baru ketemu pertama kali itu kenalan. Dan salaman. Like a common human.” Aku kembali menyodorkan tanganku yang kali ini bersambut bagai gayung.

“Yet you’re no human, Saga. You are an Alien, disguising as a human.”

“If I’m an Alien, then you’re a fan.”

“A fan? Pff, don’t be silly, Saga.”

“Yes, a fan. Kipas angin. Not ‘fan’ as in ‘a person who idolizes someone’.”

Dan itulah pertemuan pertamaku dengannya, di mana detik itu pula aku tidak pernah membayangkan perempuan ini akan memiliki peran yang sangat berarti dalam kehidupkanku.

 

“KAMU NGERJAIN AKU, SAGA! YOU JUST PRANKED ME!”

Teriaknya tiba-tiba, yang membuat beberapa pasang mata dan kepala tertuju ke arahku seketika. Ingin rasanya aku pura-pura tidak mengenalnya, tapi aduh susah. Dan lagipula setelah apa yang barusan ia alami, I think I deserved the shout.

“Girl, you said you love adventure. Challenge. Thrill.”

“Ya, nggak dengan ngerjain banget-banget kayak gini juga..”

“Oh, wait a sec…”

Aku menghampirinya, lima jari tangan kananku bersekongkol ketika itu. Dan voila! Rambutnya yang sebelumnya terikat rapi ke belakang menjadi sedikit berantakan.

“You owe me that. A moment of messing with your hair.”

“And I also owe you this.”

Dan kemudian aku mendapati lengan kananku dicubit olehnya. Tidak terlalu sakit sebetulnya, tapi kaget.

“Fuck, ouch! Sakit, Lira! When did I say that I allow you to pinch me, ih aikamu?!”

“Nggak tau. Pokonya kamu tadi nyebelin. That’s for pranking me, you see.”

Lira Tubing, wanita yang sudah hampir satu bulan ini kukenal hanya berupa bilangan biner dan berbentuk teks. Namun sejak saat itu, ia melengkapi segala rutin dalam kehidupanku walau hanya melalui media chat, social media, ataupun telepon. Teknologi? Mungkin hal itu yang membuatku sudah merasa mengenalnya lama. Tahu apa yang ia lakukan dalam kesehariannya, begitupula sebaliknya.

‘Hari ini mau ngapain aja?’, ‘Tadi ngapain aja?’, ‘Gimana kerjaan?’ atau ‘How was your day? How’s life?’ sering menjadi pertanyaan yang kita masing-masing sering ajukan setiap harinya.

Kini ia ada di depanku, secara nyata, dan dengan dua kaki yang juga berpijak ke bumi. Berjarak kurang dari dua meter di hadapanku, berupa manusia. Terhalang sebongkah meja dan dua cangkir kopi yang masih seperti sebelumnya, serta satu buah buku karangan Paulo Coelho “The Alchemist” yang ia bawa. Buku yang memang sedang ia tekuni, begitulah yang kutahu darinya di malam sebelumnya.

 

“You weren’t late to reach the travel today, hm? That early biasanya kan Jakarta sudah macet.”

“Almost. I called you in the morning but it seemed that you were still asleep. I worried a bit, mana kamu semalem nggak ngasih informasi tempat kita mau ketemu di mana lagi. Seriously, Saga. You’re mean!”

“But you’re here now anyway. Safe and sound.”

Nafas Lira masih terengah-engah. Wajah bulatnya tampak kepanasan, terlihat jelas ia lelah. Tanktop putih yang ia enakan juga tampak sedikit basah terkena keringat, pun ia mengenakan semacam jaket berbahan kulit di siang Bandung yang sedang hobi terik belakangan ini.

“A, boleh saya minta air mineral satu? This girl seems so thirsty.”

Seorang pelayan mengangguk dan tersenyum mencurigakan, sambil menggerak-gerakan alisnya. Entah apa yang ia pikirkan. Tapi aku tak peduli, mereka memang sudah mengenalku karena ini adalah tempat yang pasti aku kunjungi setiap kali aku pulang ke Bandung.

Lira menatapku, dengan tatapan yang cukup aneh. Entah apa yang ia pikirkan namun yang jelas garis bibirnya tidak menunjukkan sebuah lengkung. Tentu ia marah terhadapku, dan itu merupakan hal wajar. Keisenganku kali ini mungkin sedikit berlebihan. Terutama untuknya.

“Did you planned all these, Ga? When? Kamu kan baru sampe Bandung kemarin sore.”

“Hmm, let’s see. Well, I just barely thought of it actually. Kemarin sih, the idea just popped out of nowhere. Sisanya ya tadi.”

Bukan bermaksud ngerjain, sebetulnya. Tapi Lira adalah wanita yang membuatku sangat tertarik, bahkan sebelum aku bertemu langsung dengannya.

Dan aku ingin pertemuan pertamaku dengannya berlangsung dengan cara yang tidak biasa.

Sudah lama pertemuan ini direncanakan, namun pekerjaanku sebelumnya mengharuskanku menetap cukup lama di beberapa kota lain. Sementara kita sepakat, Bandung adalah tempat yang paling tepat untuk pertemuan ini.

Pada malam sebelumnya, sekitar dua pertiga malam. Aku menghubunginya via telepon.

 

*

“Lir, do you want to play a game?”

“What game?”

“An interesting game for sure.”

“Eh, sebentar, aku kecilin TV dulu.”

“Whoa. Are you that amazing? You shrunked the TV? With what, senter pengecil?”

“Hih. You watched too much Doraemon, Saga. Anyway, what kind of game you talk about? Tell me more.”

“Hmm, you’ll travel to Bandung tomorrow, right?”

“Iya dong. Oh iya, where shall we meet? Aku nggak terlalu hafal Bandung.”

“Nah, that’s it. Let’s call this game Petualangan Lira. Now here it goes, I will give you some instruction, and you just need to follow exactly as what I’m telling you, got it?”

“Eh, apaan sih, Saga? Kamu ada-ada aja deh. What if I’m lost in the middle of the city I’m unfamiliar with? What if I can’t find the way? What if I get robbed? What if….”

“Lir, calm down. Gini deh, I promise in the name of… err, Penguin Bawah Tanah! I promise that you will be just fine, I promise that you will succeed it, and I promise that you will get the coolest experience of all adventures you’ll ever have. And even if you’re not, I make sure I’ll be the first face you’ll see when you start giving up. Although I don’t think you’re gonna give up. You’re THE Lira anyway. You shouldn’t be afraid.”

“Fine! Challenge accepted.”

“Nice! Now you sound like the adventurer Lira that I knew. Okay then, I will send you an email, and you will sleep. Listen to me or you won’t be able to wake up early tomorrow.”

“Iyeeee, bawel deh.”

“Good night then, Lira. Oh wait! Read the mail before you fall into deep slumber. And…, selamat berpetualang!”

Aku menutup telepon di saat yang bersamaan dengan sebuah notifikasi yang muncul di layar kaca laptop di hadapanku.

 

[ Email Sent. ]

*

 

“You are out of your mind, Saga. Semalem kamu cuma ngirim email isinya angka sama huruf nggak jelas. Bahkan aku pikir itu spam!”

“Here, here. Have a drink.”

Aku menyodorkan sebotol air mineral yang baru saja diantarkan sambil memandangi gerak-geriknya. Ia memang THE Lira, Lira yang cerewet seperti biasanya. Seperti ketika di telepon, maupun di media sosial.

“Aku butuh waktu hampir setengah jam untuk cari decrypter yang bener! Untung aku inget kamu pernah cerita tentang kode MD5 ini!”

Ia menyodorkan ponselnya menunjukkan email yang kukirim semalam.

 

To: liratubing@geekmail.com

Subject: Petualangan Lira

 

“d919f2713f8ce8d0b60d9245ee31e1f6”

 

Aku kembali tersenyum melihat emailku sendiri. Nggak semua orang bisa menerjemahkan kode ini menjadi sebuah kalimat yang dalam bahasa manusia menjadi “Cititrans Fatmawati Jam 9”.

Lira memang hebat. I knew she’d understand.

“Terus aku bingung dong harus turun di mana dan harus ke mana lagi. I was extremely confused until you texted me. Gimana coba kalo aku ketiduran, Sagaaa?! Kamu jahat!”

“Lira, I knew you. You told me before that you could never fall asleep in the middle of the road because you’d prefer to read books. Tadi juga kan?”

Aku tak kuasa menahan tawa melihat Lira bercerita penuh ekspresi. Dan ini membuatku sangat yakin betapa menyebalkannya aku tadi. Atau mungkin iapun kini masih menganggapku menyebalkan.

“Iya sih.” Ia berhenti sejenak mencibirkan bibir cemberutnya. “But still, you’re mean, Saga! Nyuruh berhenti setelah lampu merah terus berbicara sama semut. SAMA SEMUT? ANTS? JANGAN KETAWA MULU SAGAAAA, DENGERIN!”

“Hahahahahaha, oops sorry Lir. I’m listening. Go on..” ujarku sambil berusaha menahan tawa yang berujung gagal.

Aku memang hanya mengirim sebuah pesan singkat sekitar jam 11 dan aku yakin ia belum sampai di bandung. Isi pesan singkatnya hanya berupa ‘Stop at the first traffic light, then talk to the ants.’

“Kamu tahu nggak sih aku takut banget pas ada mas-mas with the tattoo and rasta-braided hair, saying hi to me? Terus kamu tahu nggak aku tadi disangka orang gila sama anak-anak kecil karena ngajak jongkok dan nyari semut? They laughed at me, Saga!”

“That was Aran, a friend of mine. I told him that if he meet some weird-ordinary appearance girl sitting down in the street at the junction and talking to some ants, tell her the next clue.”

Untuk hal ini aku menjelaskan dengan sangat serius sambil menghentikan tawaku sejenak. Karena siapapun yang disapa tiba-tiba oleh Aran pasti akan kaget. Tubuh tinggi, rambut gimbal serta tatto pensil 2B di lengan kiri Aran membuat penampilannya menjadi lebih menyeramkan ketimbang kebanyakan manusia, memang.

“Heh? Jadi yang tadi itu temen kamu? Seriously? Tadi kok dia bilangnya cuma dititipin pesen sama om-om dekil keriting. Terus pas aku nanya dia kenal Saga apa enggak, dia bilang enggak. Katanya, satu-satunya orang bernama Saga yang dia kenal cuma Pedagang Kupat Tahu di Tasik, bukan di Bandung.”

“What?! Really? Damn you, Aran. He was joking.” ujarku, “Itu, Aran ada di atas. Also with Piter and Laut, I’m gonna have a meeting with them soon and you’ll come with me.”

Lira tampak kaget, dan aku juga pura-pura kaget. Aku hanya minta tolong pada Aran untuk menunjukkan Lira jalan ke sebuah toko peralatan rumah tangga bernama Rumah Kita dan membeli charger iPhone sepanjang 5 meter. Rupanya Aranpun ingin ikutan iseng dengan menambahkan sedikit bumbu ekstra di petualangan ini.

“Awas ya. I hate him too, pokoknya. Ingetin aku kalau aku benci dia, aku pelupa soalnya.” Lira mengutuk sambil tertawa. Dan kedua matanya hilang saat ia tertawa. “Oh iya, ini HP siapa? Is it yours? Pas aku mau balikin ke kasirnya, dia malah nyuruh aku bawa aja.”

“That’s mine! Wait, she didn’t tell you to bring the phone along with you? Was I forgetting something on the note I gave her?”

Aku mengingat-ingat kembali catatan yang kutulis di handphoneku yang kutitipkan di mbak-mbak kasir Rumah Kita. Dan tampaknya aku memang lupa menuliskan pesan bahwa HP ini harus dibawa juga. Yang aku ingat adalah aku bilang, kalau ada yang membeli kabel charger sepanjang 5 meter sambil memutar-mutar tangannya seperti kipas angin, tolong berikan HP ini padanya.

Di notes tersebut juga kutulis petunjuk berikutnya. Dalam bahasa elf atau elvish.

‘Nelkea Vani har, lemin vano rhun.’

Aku dan Lira sama-sama penggila Lord of The Rings, dan aku yakin dia pasti paham artinya.

TADI MBAK-MBAK KASIRNYA NGETAWAIN AKU COBA!! Eh tapi kalau aku jadi dia juga pasti ketawa sih. I was literally spinning my hand like a fan in front of her.”

Lira berdiri dan memeragakan kipas angin persis seperti apa yang kubayangkan sebelumnya. Ia tidak mempedulikan pengunjung yang lain, begitulah Lira. Cuek dan selalu penuh antusiasme.

“Saga..” Lira menatapku dalam-dalam. Kemudian membisu dan mematung selama beberapa detik.

“Yes Lira, what?”

Aku, seolah-olah seperti anak kecil yang penasaran. Menunggu kata-kata selanjutnya yang akan keluar dari bibir Lira.

“Kamu pikir aku hafal elvish luar kepala, hah? Aku memang tahu, tapi cuma dikit! Ini numeralnya aja aku search di google susah dapetnya. Lama nyarinya, Saga! I almost gave up. Apa susahnya sih ngasih tau pake bahasa yang baik dan benar ’13 langkah ke utara, 5 langkah ke timur’?! KAMU NYUSAHIN! KAMU NYEBELIN!”

Dan lagi-lagi aku tersenyum melihatnya, tanpa mengucap sepatah katapun.

“Dih, malah diem. Aku benci kamu pokoknya. Aku mau balas dendam. Dan pembalasan selalu lebih kejam. We’ll see.”

“But you enjoyed it, right? The adventure.”

“Iya sih. Anyway, kopinya enak nggak sih di sini?”

Lira tersenyum sambil mulai menyeruput cangkir kopinya. Secangkir kopi hitam yang sudah sengaja disiapkan. Iya kopi hitam, kesukaanya. Perempuan yang pada setelah itu aku tahu bahwa namanya merupakan anagram dari ‘Langit Biru’.

Dan hari itu menjadi hari yang tidak akan pernah kulupakan. Semoga juga begitu untuknya.

 

PetualanganLira

Blog Comments

Daus ber bahasa inggris. Aku terkejut. Aku terpukau.

Us, jadiin buku aja us. Ogut ketawa-ketawa bacanya :))

Us, keren ! Emejingg ..

Keren!!

Add a comment

*Please complete all fields correctly